Altitude Sickness dan Tantangan Gowes di Ketinggian

foto : livefortheoutdoor.com

Banyak yang mengeluhkan saat gowes ke gunung atau dataran tinggi lebih berat. Gowes di dataran tinggi cepat kehabisan nafas dan serasa lebih berat dari gowes di dataran rendah. Saat gowes ke Puncak beberapa waktu lalu saya merasakan sendiri hal itu.

Nafas lebih berat dan cepat ngos-ngosan. Jika biasanya yang dikeluhkan saat gowes adalah kekuatan dengkul, kali ini yang dikeluhkan adalah nafas. Dengkul masih terasa kuat menggowes, namun nafas sudah terasa habis. Meski udara terasa sejuk, namun sepertinya bernafas menjadi lebih susah.

Berawal dari keluhan yang sama saya dan teman-temen pun penasaran dan mendiskusikan hal ini. Kami mencurigai faktor ketinggian dan tipisnya oksigen sebagai penyebabnya. Karena penasaran, akhirnya saya pun mencari-cari dan mempelajari literature mengenai hal itu.

Ternyata benar, faktor ketinggian menyebabkan orang menghadapi hambatan patoligis berupa kesulitan bernafas. Hal ini dikenal sebagai Altitude Sickness atau penyakit ketinggian yang juga dikenal dengan Acute Mountain Sickness (AMS).Altitude Sickness ini terjadi pada tubuh karena rendahnya tekanan oksigen di daerah yang tinggi.

Altitude Sickness biasanya terjadi di daerah yang memiliki ketinggian di atas 2400 meter di atas permukaan laut atau 8000 kaki. Jika Altitude Sickness ini menyerang, biasanya akan diikuti dengan gejala seperti nafas tersengal-sengal, kepala pening, mual sampai muntah, hilang selera makan, letih, bahkan merasa malas untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Ini adalah sesuatu yang umum terjadi. Semua orang yang tidak terbiasa beraktivitas di ketinggian pasti akan mengalami hal ini. Jadi kalau anda sedang gowes ke gunung tiba-tiba merasa lebih ngos-ngosan dan loyo dari biasanya itu adalah hal lumrah. Meskipun memiliki stamina yang bagus dalam menggowes, atau dengkul yang kuat, namun jika Altitude Sickness menyerang anda, bisa dipastikan akan menyerah.

Maka jangan heran juga jika kita melihat mereka yang biasa beraktivitas di daerah tinggi, misalnya orang Puncak atau Bandung pasti akan lebih tahan terhadap atau tak mengalami Altitude Sickness. Mereka juga pasti lebih kuat gowes di ketinggian dibandingkan dengan orang Jakarta. Hal ini terjadi karena mereka telah melakukan proses aklimatisasi atau penyesuaian.

Dengan aklimatisasi, orang yang tinggal atau sering beraktivitas di ketinggian menyesuaikan pasukan oksigen bagi tubuhnya. Sehingga tubuhnya terbiasa dengan tipisnya oksigen di dataran tinggi. Hal ini sangat membantu mereka untuk menghindari tantangan hidup di ketinggian seperti Altitude Sicknes. Bahkan banyak orang yang bisa hidup diketinggian 4000 meter sekalipun.

Bagi kita yang hidup sehari-hari di daerah dataran rendah, Altitute Sickness akan menjadi tantangan tersendiri saat beraktivitas di dataran tinggi, termasuk saat gowes. Apalagi saat gowes, intensitas bernafas kita akan jauh lebih tinggi dari keadaan normal. Makanya kemudian tantangan gowes di ketinggian bukan hanya treknya saja. Tantangan trek dataran tinggi yang bermedan off road keras dan banyak tanjakan akan semakin berat dengan Altitude Sickness ini.

Lalu apakah kita bisa mengatasi, atau paling tidak mengurangi efek Altitude Sickness ini? Tentu saja bisa. Ada beberapa cara untuk menghindari atau memininalisasinya. Misalnya dengan cara naik pelan-pelan. Bagi pendaki gunung, artinya harus melakukan penjanjakan dengan jalan lebih pelan, demikian pula dengan goweser juga perlu memperlambat atau membuat lebih santai gowesannya. Ini akan berguna untuk mengurangi intensitas pernafasan. Selain itu juga untuk memberikan kesempatan tubuh sedikit melakukan penyesuaian dengan perbedaan ketinggian yang terus terjadi ke depan.

Selain itu, Altitude Sickness juga bisa diminimalisasi dengan banyak minum. Ini saya rasakan sendiri saat gowes di Puncak, di mana air minum terasa lebih cepat habis, meskipun trek yang dilalui relatif lebih pendek. Karena itu saat gowes di ketinggian, sangat disarankan agar membawa banyak air. Kantong air berukuran besar atau water bladder berukuran dua sampai tiga liter, tentu lebih pas dibandingkan dengan memakai botol yang rata-rata ukurannya kurang dari satu liter.

Altitude Sickness ini akan selalu menjadi tantangan bagi kita yang suka gowes di ketinggian. Jadi jika kita gowes di gunung, yang perlu kita takhlukkan bukan hanya beratnya medan, tapi juga harus bisa mengatasi tantangan lainnya seperti Altitude Sickness ini. Tapi tidak perlu khwatir berlebih, kita hanya perlu mengenalinya dan setelah itu yang paling penting mengantisipasinya. Selamat menanjak!

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *