Kesalahan Wartawan dan Dosa Media

Seperti biasa, sepulang kerja saya selalu bersantai mengusir penat sambil bermain blackberry. Saat membuka twitter, saya menjumpai timeline nya penuh dengan topik meninggalnya Seniman Gesang. Para sahabat saya di twitter mengabarkan melalui tweetnya bahwa pencipta lagu “Bengawan Solo” itu telah meninggalkan kita.

Saya kaget dan mengucapkan duka cita dalam hati sambil mengucap inalillahi wainaillaihirojiun. Lalu saya mengabarkan ke keluarga dan mereka serentak juga mengucapkan inalillahi wainaillaihirojiun. Lalu kami berbincang soal Gesang. Kenangan soal lagu keroncong ciptaannya yang mendunia itu.

Tak lama kami berbincang, saya keget melihat di timeline, topik wafatnya Gesang sudah bergeser menjadi topik bahwa Sang Maestro masih hidup. Bahkan dikabarkan mulai membaik. Lho?!

Lalu saya segera menelusuri sumber kabar yang menjadi kabur itu dari link di tweet mereka. Ternyata mayoritas bersumber sama dari sebuah media online yang awalnya memberitakan dengan judul Gesang Meninggal Dunia (belakangan diganti dengan judul Gesang Sempat Dikabarkan Meninggal), namun belakangan meralatnya dengan menurunkan berita berikutnya degan judul Gesang Ternyata Stabil. Memang faktanya malam itu Gesang (yang dalam bahasa jawa artinya hidup) masih hidup.

Selain media online itu sebuah stasiun televisi swasta juga mengabarkan hal yang sama. Meski keduanya kemudian buru-buru meralatnya namun kecaman, kritikan, dan makian terlanjur bermunculan. Akhirnya Gesang menjadi trending topic di twitter.

Publik yang belakangan disibukkan dengan kasus “dosa media” seperti dugaan rekayasa narasumber, pemberitaan yang tak berimbang, dan sebagainya lalu berang dan mencemooh media. Beberapa meminta agar wartawan hati-hati dalam menurunkan berita, apalagi soal Gesang, yang menyangkut hidup dan mati seseorang.

Dari kasus pemberitaan wafatnya Gesang ini, dan kasus-kasus serupa, bisa kita ambil pelajaran bahwa disiplin verifikasi diabaikan oleh wartawan. Kalau kita baca tulisan (sebelum diubah) yang mengabarkan wafatnya Gesang jelas si wartawan mengakui belum memverifikasi. Hanya kabarnya, dikabarkan, katanya dan sebagainya. Lalu setelah menelpon keluarga Gesang baru mereka mendapat fakta bahwa sang maestro masih hidup dan justru malah membaik.

Kasus soal Gesang bukan yang pertama. Dulu saat meliput Gus Dur, saya menyaksikan sendiri kasus serupa. Ceritanya waktu itu Gus Dur sedang di gedung PBNU, lalu para kiai pendukung Muhaimin Iskandar yang sedang berseteru sowan ke Gus Dur untuk menawarkan islah. Lalu terdengar kabar para kiai itu diusir Gus Dur.

Tak lama kemudian muncul berita yang serupa tapi tak sama di media online. Topik dan lokasinya sama isinya berbeda dan saling bertentangan. Jawabannya mudah diterka, wartawan tak melihat langsung kejadian itu, tanpa verifikasi namun buru-buru menurunkan berita. Misalnya saja berita di sebuah situs online yang judulnya Gus Dur Usir KH Aziz Mansyur dari Kantor PBNU.

Di dalam berita itu si wartawan menulis:

“Peristiwa itu terjadi saat kedua tokoh ini bertemu di halaman parkir kantor PB NU Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (3/5/2008). Gus Dur yang berjalan di depan Aziz Mansyur tiba-tiba membalikan badannya saat akan memasuki gedung PBNU.

“Keluar! Kalian penipu. Kalian tidak punya hak di sini!” tegas Gus Dur dengan suara keras.

Usai mengeluarkan kata-kata tersebut, mantan Ketua Umum PBNU ini melanjutkan langkahnya menuju lantai V gedung PBNU. Kehadiran Gus Dur di tempat tersebut memang ingin menggelar jumpa pers.”

Nah, coba kita cermati baik-baik, sejak kapan Gus Dur bisa berjalan, sambil membalikkan badan pula?!. Lalu dikatakan tempatnya di halaman parkir, padahal lokasinya di ruangan Gus Dur di lantai I PBNU, dan tidak seorangpun wartawan yang diizinkan masuk ke dalam kala itu. Saya ingat sekali saat itu si wartawan ini bersama saya di lantai V PBNU.

Saat itu bukan hanya berita itu saja yang salah, mayoritas situs online yang tak mau ketinggalan juga ikut salah memberitakakan. Hanya beberapa media cetak yang keesokan harinya memberitakan dengan benar, karena punya waktu lebih banyak untuk verifikasi. Ini contoh salah satu tulisan di media cetak tersebut:

“Rombongan kiai itu tiba di Kantor PB NU, Jalan Kramat Raya, pukul 12.15. Saat mereka datang, Gus Dur belum tiba di Kantor PB NU, tempat dia biasa ngantor. Para kiai tersebut menanti di ruang tunggu, sebelah ruang Gus Dur. Lima belas menit kemudian, Gus Dur tiba dan masuk ke ruang kerjanya didampingi Ketua DPP PKB Hermawi Taslim. Para kiai itu kemudian dipersilakan masuk ke ruang Gus Dur. Beberapa wartawan tidak diperbolehkan masuk.

Saat para kiai tersebut masuk, terdengarlah teriakan keras Gus Dur. “Keluar!” teriak Gus Dur. Suaranya sampai terdengar hingga luar ruangan. Beberapa saat kemudian, terdengar lagi suara keras Gus Dur. “Muhaimin itu penipu. Semuanya pembohong,” kata Gus Dur dengan nada tinggi.”

Jelaslah sudah mana yang mau melakukan verifikasi dan mana yang abai terhadapnya. Ibarat bertani, beda hasil antara yang mau repot mencangkul dan yang tidak. Disiplin verifikasi ini memang sangat penting dalam kerja jurnalistik. Jurnalis ternama Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, yang menulis buku terkenal (dan menjadi pegangan wartawan) The Elements of Jurnalism atau yang di Indonesia diterjemahkan Sembilan Elemen Jurnalisme, juga menegaskan bahwa disiplin verifikasi adalah elemen penting dalam jurnalisme. Jadi kerja wartawan tidak boleh melupakan dan mengabaikan elemen ini.

Jika sudah mengabaikan, yang sering terjdi kemudian adalah kesalahan wartawan yang kemudian segera menjelma sebagai dosa media di mata publik. Bahkan saya pernah membaca kisah seorang perempuan Iran yang terpaksa lari dari negaranya akibat dikejar-kejar pemerintah. Nasib dosen perguruan tinggi ini berubah saat wartawan salah memberitakannya sebagai anggota demonstran anti pemerintah. Kesalahan ini akibat wajahnya di facebook mirip dengan wanita iran lain yang merupakan demonstran sebenarnya. Nah, wartawan salah mengenali dan media salah memberitakan, lalu berakhirlah masa-masa indah perempuan itu.

Saya sangat paham dan maklum tuntutan dari kantor, deadline yang ketat dan problem lainnya terkadang membuat verifikasi terlalaikan. Kalau sudah begini rasanya kurang tepat jika menyalahkan wartawan. Dulu teman saya liputan ada yang mengaku terpaksa mengarang berita karena “diancam” redakturnya.

Tapi apa masyarakat, terutama yang dirugikan mau memaklumi hal itu. Jika mau dicari kesalahan di mana, apakah kesalahan wartawan atau dosa media. Media atau kantornya yang salah atau wartawannya. Bagi masyarakat itu semua sama saja.

Apapun, sebaiknya disiplin verifikasi tetap dipegang teguh. Jangan sampai kita membuat berita yang berdampak merugikan orang yang tidak bersalah seperti kasus di Iran tersebut. Semoga kesalahan-kesalahan wartawan selama ini bisa menjadi pelajaran dan tak ada lebih banyak lagi dosa media yang tersaji di hadapan kita. Semoga.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *