Lagi Lagi (Blunder) TweetDeck

Biasanya kalo sedang nonton bola, saya ngetwit tentang pertandingan bola yang sedang berlangsung. Banyak orang juga melakukan hal yang sama. Seperti saat sedang asik nonton derby Manchester, antara Manchester United vs Manchester City, beberapa waktu lalu, saya juga nonton sambil ngetwit dan mantengin timeline (TL).

Saat Rooney mencetak gol ke dua MU ke gawang City, orang-orang pun ngetwit tentang momen ini, tak terkecuali Pendiri @detikcom Budiono Darsono (@budionodarsono). Twit @budionodarsono ini sebenarnya biasa saja, sama dengan twit-twit banyak orang yang mengomentari pertandingan, yaitu:

“Si biru bobol lagi. 2-0 utk si merah”

Namun twit ini kemudian jadi perhatian orang dan bikin heboh karena di saat yang sama dan dengan isi yang sama muncul di akun @detikcom. Jika memfollow kedua akun tersebut, seperti saya, maka dua twit ini akan berjejeran di TL anda. Rupanya @budionodarsono tak sengaja ngetwit juga di akun yg salah. Banyak orang yang kemudian membicarakan dan memention dia tentang twit ini.

Ini bukan kali pertama @budionodarsono melakukan blunder. Sebelumnya twit pribadinya juga pernah nyasar di akun detik. Bedanya yang pertama dulu dia bikin klarifikasi atau minta maaf di akun detik, sedangkan kali kedua ini, dia cuek saja, seolah tidak terjadi apa-apa.

Ada dua persamaan dari kedua blunder @budionodarsono ini yaitu diposting menggunakan TweetDeck. Aplikasi ngetwit yang satu ini memang telah banyak memakan korban. Banyak admin yang double post twit pribadinya ke akun kerjaan atau kliennya gara-gara aplikasi ini. Sebabnya adalah kepencet atau lupa mematikan fitur yang memfasilitasi twit ke multi akun.

Twit @budionodarsono hanya salah satu contoh. Banyak korban TweetDeck lainnya. Kecelakaan seperti itu adalah salah satu kekurangan aplikasi twitter yang menyediakan fasilitas multi akun seperti TweetDeck. Di satu sisi mempermudah orang dengan banyak akun, namun di sini lain juga bisa membuat melakukan blunder.

Meski yang sering memakan korban adalah TweetDeck, namun banyak juga aplikasi serupa yang juga bisa mencelakakan admin seperti itu. Contohnya adalah TweetCaster. Kejadian admin blunder dengan TweetCaster dialami admin akun @hartatimurdaya. Akun palsu ini blundernya lebih parah, karena dia ngetwit sambil memention @AlissaWahid, seperti ini:

“@mysuhendi @AlissaWahid kpk sudah keblinger dan menjadi lembaga superbody, jelas menyalahi ketatanegaraan.”

Celakanya, si admin lupa mematikan fasilitas multi akun di akun dia lainnya. Akibatnya twitnya tersebut muncul di tab mention @AlissaWahiddalam dua akun @hartatimurdaya dan @savepolri. Karena dua akun ngetwit hal yang sama dan di waktu yang sama serta memention orang yang sama, maka ketahuanlah bahwa admin kedua akun itu sama.

Foto: @AlissaWahid

foto: @AlissaWahid

Sebuah blunder yang sangat fatal bagi admin akun palsu dan akun anonim. Karena admin akun anonim atau akun kerjaan biasanya merahasiakan jatidirinya atau tidak ingin diketahui siapa admin di balik akun non personal ini. Kalau kejadian seperti yang dialami @budionodarsono sih tidak parah, karena dia bosnya detik, jadi blunder di akun detik dan ketahuan sebagai admin @detikcom bukan masalah. Tapi bagaimana dengan akun @hartatimurdaya dan @savepolri misalnya? Tentu ini fatal, karena jadi ketahuan keduanya di admini orang yang sama. Kebongkar sebagian strateginya, yang awalnya mungkin dibuat seolah keduanya tak saling kenal atau tak ada hubungan.

Dari kejadian ini kita bisa menarik pelajaran yang penting, terutama bagi admin dengan banyak akun yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Pelajarannya adalah: hati-hati dan telitilah sebelum memposting sebuah twit.

Jika anda memilih menggunakan aplikasi dengan multi akun seperti TweetDeck, blunder seperti itu sangat bisa menimpa anda. Karena itu kehati-hatian saat mentwit sangat diperlukan. Sebelum memencet tombol twit, pastikan hanya satu akun yang tepat yang terpencet (biasanya ditunjukkan dalam warna biru di ikon akunnya). Lihat juga apakah twit tersebut memang akan anda twit di akun itu atau akun yang lainnya di dalam aplikasi.

Sekali lagi yang penting hati-hati, agar blunder tidak terjadi lagi dan lagi.

 

2 comments

Leave a Reply to Dian Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *