Maestro Mranggi

Selalu senang mengamati hulu keris atau deder Yogya garapan Mas Gatot Kamijo. Bagi saya garapan mranggi deder asal Imogiri ini selalu sempurna dan orangnya layak diberi gelar maestro.

Menyematkan gelar maestro untuk mranggi atau seniman sandangan keris memang agak tak biasa. Biasanya gelar maestro di keris selalu dilekatkan ke empu pembuat bilah keris.

Karena itu menurut saya, perlu juga ada maestro mranggi. Sebab sandangan keris juga sama pentingnya dengan wilah atau bilahnya. Karena keris itu merupakan kesatuan antara wilah dan sandanganya. Maka jika empu keris bisa digelari maestro, mranggi pun bisa juga.

Untuk mranggi warangka Yogya ada Alm. Pak Wusanto dan di Solo ada Alm. Pak Suyamto Plompong, yang layak digelari maestro. Sedangkan untuk mranggi deder ada Mas Gatot. Kebetulan Mas Gatot juga jago membuat deder baik Yogya maupun Solo.

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu kita pahami dulu apa itu maestro. 

Maestro berasal dari Bahas Italia yang artinya master atau guru. Kalau di bahasa Latin disebut magister. Gelar yang saat ini dipakai untuk lulusan kuliah pasca sarjana.

Awalnya maestro ini adalah gelar kehormatan di bidang seni musik klasik dan opera. Namun dalam perkembangannya kemudian dipake untuk gelar kehormatan atau pengakuan keahlian seniman di semua bidang seni.

Mikke Susanto dalam tulisannya yang berjudul “Kemaestroan”, yang mencuplik buku “Maestro Seni Rupa Indonesia” yang ditulisnya bersama Agus T. Dermawan, mengatakan kata maestro seringkali dikaitkan dengan orang yang memiliki pengalaman dan prestasi yang sangat tinggi, dan di atas rata-rata peseni pada zaman ataupun era selanjutnya. Selain itu dia juga memiliki keterampilan teknik

yang sangat tinggi dalam penciptaan seni, sehingga mampu melahirkan model dan penciptaan atau karya yang secara kualitas maupun kuantitas tidak mampu dikerjakan oleh sembarang orang. Karya itu yang dihasilkan maestro ini dikenal sebagai masterpiece atau adikarya. 

Oleh karena itu seorang seniman layak disebut maestro atau tidak, tentu dengan melihat karyanya. Apakah karyanya istimewa atau tidak? masuk kriteria masterpiece atau tidak?

Kembali ke Mas Gatot, menurut saya untuk seniman atau mranggi deder Yogya Mas Gatot layak disebut maestro dan karyanya juga tergolong masterpiece. Sampai saat ini, garap dedernya, terutama ukiran Putri Kinurung Yogyanya masih yang terbaik. 

Kalau untuk patra atau cecekan, mungkin mranggi deder lainnya sudah mulai ada yang menyamai bagusnya. Namun untuk kinurung yang kecil, detail, “hidup”, dan memiliki “rasa” Yogya, menurut saya beliau masih yang terbaik dan belum ada yang menyamai.

Di sini anda bisa dan boleh berbeda pendapat dengan saya. Atau menilai ada seniman lain juga layak disebut maestro, lalu menunjukkannya beserta grapnya. Itu justru yang diharapkan. 

Termasuk maestro yang ada di daerah lainnya, atau luar Jawa, bahkan manca seperti di kawasan Semenanjung. Yang mana memang sengaja tidak saya sebut di tulisan ini karena saya tidak mengenal dan memahaminya.

Mari kita identifikasi para maestro mranggi ini. Di sini ada Si A, ada Si B, dan seterusnya. Agar dikenal, juga agar dapat dukungan untuk terus berkarya. 

Karena tujuan menyebut maestro di tulisan ini bukan bermaksud memuji berlebihan atau bahkan mengkultuskan Maa Gatot. Tujuannya adalah agar menjadi benchmark atau tolak ukur bagi pengrajin atau seniman lainnya. Terutama generasi penerusnya. 

Agar karya yang bagus ditiru dan dilanjutkan, sukur-sukur dilampaui. Agar berkarya tidak hanya soal memenuhi permintaan pasar, tapi juga menciptakan masterpiece. Dengan demikian karya dengan kualitas tinggi akan terus diproduksi dan lestari. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.