Makin Hari, Makin Macet

foto: vivanews.com

Gila. Itulah kata yang terlontar saat membaca data yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke dalam sebuah seminar mengenai jumlah kendaraan yang beredar di jalanan Jakarta. Betapa tidak, saat ini di Jakarta ada sekitar 6,5 juta unit kendaraan yang lalu lalang di jalanannya.

Jumlah itu jika dibandingkan dengan ruas jalan Jakarta yang terbatas, di tambah jalur busway, tentu tak sepadan dan timpang. Tak heran kalau jalanan Jakarta makin macet, dan Jakarta makin terkenal sebagai kota yang identik dengan kemacetan.

Tapi ada lagi data yang lebih dahsyat, hingga membuat saya kembali berkata gila! (kali ini pake tanda seru hehe), yaitu pertambahan jumlah kendaraan. Data yang diungkapkan Foke menunjukkan bahwa kendaraan yang beredar di jalan tiap harinya bertambah ratusan unit. Motor bertambah 890 unit, sedangkan mobil bertambah 240 unit. Bayangkan, setiap hari jumlah kendaraan yang melaju di Jalanan sempit Jakarta sebanyak itu.

Gubernur Jakarta yang dikenal dengan julukan Bang Kumis ini mengatakan bertambahnya jumlah kendaraan itu lantaran ekonomi masyarakat kian membaik. Makanya dari jumlah jutaan kendaraan yang beredar itu, 98% di antaranya adalah kendaraan pribadi. Hanya 2% saja yang merupakan kendaraan umum.

Lebih celaka lagi, dari 2% kendaraan umum itu, hanya bisa mengangkut 66% saja dari penduduk Jakarta yang bermobilitas setiap hari. Penduduk Jakarta memang identik dengan perjalanan atau mobilitas. Data mencatat setiap hari terdapat sekitar 21 juta aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh warga ibukota.

foto: primaironline.com

Itu belum lagi jika mobil murah masuk Indonesia. Sebagaimana santer terdengar, kabarnya akan ada mobil murah dari India dan Korea yang konon harganya Cuma Rp20-40 an juta. Nah bila benar ada mobil murah itu, dan masuk ke sini, bisa dibayangkan bagaimana wajah jalanan di Jakarta ini.

Kemacetan niscaya akan semakin parah. Makin hari, makin macet. Setiap hari kita akan berjumpa dengan macet, baik pergi maupun pulang kantor. Pagi sarapan mecet, malam makan macet. Teriakan dari warga Jakarta soal macet akan lebih nyaring lagi.

Jika kita mau menelisik lebih jauh, sebenarnya bertambahnya kendaraan itu bukan semata soal membaiknya ekonomi masyarakat. Kalau mobil mewah mungkin iya. Sudah rahasia umum satu orang kaya bisa memiliki banyak mobil.

Tapi untuk mobil sederhana dan motor rasanya tidak. Mereka terpaksa membeli kendaraan itu karena transportasi umum di Jakarta sungguh tidak memadahi. Wajah angkutan umum Jakarta jika mau digambarkan dengan singkat adalah Kumuh, Mahal, Tak Aman, dan Lamban.

Bagaimana dengan transportasi andalan Jakarta yaitu Bus Transjakarta alias busway? Jawabannya sama-saja. Meski tidak kumuh tapi busway tetap lamban, dan terkadang tak aman. Busway juga tak menjangkau banyak kawasan. Sebagai gambaran, teman saya pernah menunggu busway di jam padat seusai magrib, sampai isya’ tak kunjung datang bus yang ditunggu, atau kalau datang sudah penuh sekali.

Akhirnya masyarakat terpaksa beli kendaraan ala kadarnya untuk bermobilitas, karena naik kendaraan umum relatif lebih mahal dari naik motor misalnya. Teman saya yang lain, setiap hari berangkat kerja naik angkutan habis dana Rp10 ribu, sementara jika naik motor dana segitu bisa untuk dua hari.

Nah akhirnya masyarakat Jakarta yang pas-pasan terpaksa membeli kendaraan pribadi. Seorang pegawai dengan gaji pas-pasan terpaksa kredit motor atau mobil. Akibatnya data pertambahan kendaraan per hari yang jumlahnya fantastis itu muncul. Meski banyak juga yang membeli kendaraan lagi untuk gengsi dan prestise, namun saya yakin jumlahnya kecil.

foto: vivanews.com

Lalu apa solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Jawabannya tentu dengan menyediakan sarana transportasi masal yang bagus dan memadahi. Bukan dengan jalan mengeluarkan kebijakan yang berlabel “membatasi”, seperti membatasi pembelian kendaraan, atau membatasi masuk ke jalan tertentu dan sebagainya. Sebab jika dilakukan akan menimbulkan resistensi masyarakat, akibatnya tak akan berjalan.

Bang Kumis yang ahlinya Jakarta (kata dia waktu kampanye dulu) memang merencanakan hal itu. Makanya dia akan membangun MRT dan Monorail. Meskipun banyak warga Jakarta yang pesimis, sebab sudah bertahun-tahun monorail baru berdiri tiangnya saja, itu pun lumutan. Tapi bagaimanapun jika pemerintah ada niat demikian patut kita dukung dan apresiasi. Tinggal kita tunggu realisasinya.

Namun yang perlu disesalkan, akhir-akhir ini jajaran Bang Kumis rupanya justru sering membuat kebijakan yang dinilai tak pro orang kecil. Misalnya pemberlakuan electronic road pricing (ERP) yang sudah saya bahas di sini. Pejabatnya sering menyalahkan motor, pedagang kaki lima dan sebagainya.

Saya rasa yang demikian perlu disudahi, dan sebaiknya Bang Kumis dan kawan-kawan fokus membuat sarana transportasi masal yang bagus. Atau menyibukkan diri saja mencari solusi yang win win solution, tidak diskriminatif dan seperti slogan Perum Pegadaian, “mengatasi masalah tanpa masalah”.  Bisa kan bang? Bisa lah, kan katanya ahlinya Jakarta.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *