Mudik dan Geliat Ekonomi Kaum Udik

foto: M. Solihin

“Mudik itu bagi-bagi rejeki, ” begitu kata teman saya yang mudik ke kampungnya pada lebaran tahun ini.

Bagi-bagi rejeki yang dimaksud teman saya tentu saja bukan sekedar berbagi uang recehan dan angpau untuk sanak-saudara yang masih anak-anak, tapi berbagi rejeki dalam arti luas. Bagi-bagi rejeki yang dimaksud adalah menggeliatkan perekonomian di kampong atau di udik.

Tak bisa dipungkiri, mudik memang membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi tempat tujuan mudik yaitu pedesaan atau tempat kaum udik. Tanpa data ekonomi yang njlimet pun kita bisa melihat bahwa ada aliran atau perputaran uang saat mudik. Uang bergerak bersama dengan para pemudik dari kota ke udik, dan di momen yang terjadi setahun sekali ini, perekonomian di desapun menggeliat.

Sebagai contoh kita lihat saja di desa saya di Desa Bangilan, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Setiap musim mudik, warga desa merasa bahagia dan sejahtera. Ini karena setiap musim mudik, tiba-tiba rejeki tumpah ruah, dan lapangan pekerjaan musiman muncul di mana-mana. Tempat-tempat yang seperti terminal, pasar, dan kawasan wisata, menjadi lahan mencari pendapatan musiman ini. Inilah tempat di mana rejeki berputar di kampung.

Para pemuda desa yang sehari-hari tidak bekerja atau bekerja namun tidak banyak hasil, di musim mudik tiba-tiba mendapat pekerjaan musiman yang menjanjikan. Misalnya di bidang jasa transportasi seperti ojek, dan angkutan ke tempat wisata. Selain itu, di pasar, terminal, dan tempat wisata, baik pedagang musiman maupun regular, juga bisa meraup untung yang lebih banyak daripada hari biasa.

Sebegitu besarkah aliran uang yang ikut mengalir bersama arus mudik sehingga bisa membuat perekonomian kaum udik yang biasanya lesu menjadi menggeliat dan bergairah? Jawabannya adalah: besar sekali. Kita lihat saja data Dompet Duafa dalam buku “Ekonomi Mudik: Potret Potensi Ekonomi Mudik Lebaran 1431 Hijriah” yang dikutip Tempo menyebutkan bahwa tahun ini nilai ekonomi mudik diprediksi sekitar Rp95,088 Triliun. Jumlah ini naik dari tahun lalu yang mencapai sekitar Rp87 Triliun.

Masih menurut data Dompet Duafa yang mengutip data Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik tahun ini mencapai 15,44 juta penumpang. Jumlah ini meningkat 3,95 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 14,85 juta. Sementara jumlah pengguna roda dua diprediksi sekitar 2,47 juta, mobil 1,63 juta, kereta api 1.384 gerbong, kapal laut 747, dan 2,95 juta orang naik pesawat terbang.

Data Dompet Duafa itu juga menyebutkan, pembelanjaan uang yang sangat besar itu sebagaian besar ada di daerah, yaitu 56 persen. Sementara untuk ongkos perjalanan hanya 44 persen. Lalu untuk apa uang yang beredar di daerah itu? Sama seperti yang saya jabarkan di atas, uang itu dibelanjakan untuk akomodasi, wisata, sedekah, dan zakat.

Suasana gembira selalu menyelimuti orang-orang di desa saya saat menjelang lebaran. Ini karena mereka menanti bagi-bagi rejeki dari para pemudik yang kalau di desa saya disebut “ngapain”. Para pemudik, terutama yang di Jakarta bekerja jadi pembantu atau pekerja kasar disebut “ngapain” karena kalau bicara suka bilang ngapain lo..ngapain sih.. hehe.

Sesampainya di kampong para ngapain ini akan membelanjakan uangnya. Bisa dibilang mereka sangat konsumtif sekali, baik untuk kebutuhan sandang, pangan, maupun hiburan. Mereka ini rata-rata memiliki banyak uang karena menabung selama setahun. Jadi uang tabungan selama kerja setahun di Jakarta, dibelanjakan saat lebaran di kampong. Ini yang membuat perputaran uang di kampung menjadi tinggi dan ekonomi kaum udik pun menggeliat.

Desa saya letaknya di Jawa Timur, dan menurut data Statistik Institut Teknologi Surabaya (ITS) perputaran uang lebaran ini di Jatim diperkirakan sebanyak Rp13 Triliun. Uang senilai Rp13 triliun ini berputar di Jatim dibawa oleh sekitar 27 juta jiwa warganya yang bergerak mudik baik dari Jakarta maupun Surabaya ke kampung.

Rp13 triliun tentu bukan uang yang sedikit. Apalagi uang yang besar itu bergerak ke kampung di mana biasanya perputaran uangnya tak sebesar itu. Karena itu saat lebaran ekonomi di kampung benar-benar menjadi hidup. Makanya bukan cuma orang yang mudik saja yang gembira karena akan melihat kampung halaman, tetapi mereka yang di kampung juga gembira karena mendapat pembagian rejeki.

Dari fenomena mudik ini, kita bisa melihat bahwa masyarakat bisa menggerakkan perekonomiannya sendiri. Lihat saja para pemudik bisa dengan mudah membuat desanya menjadi sejahtera saat musim mudik tiba. Di satu sisi ini baik dalam konteks bagi-bagi rejeki. Artinya rakyat menolong sendiri rakyat lainnya. Para pemudik menolong orang kampungnya dengan bagi-bagi rejeki itu tadi. Para pemudik membantu perekonomian desa menjadi hidup.

Namun di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa kesejahteraan belum merata. Lihat saja bahwa uang itu berputar di kota dan baru mengalir ke desa saat musim mudik. Uang dan geliat perekonomian yang ada di kota saja dan tidak merata ke desa inilah yang membuat orang kemudian ingin pergi ke kota. Maka urbanisasipun semakin tinggi.

Betapa tidak, ketika melihat rekan atau kerabatnya datang dari kota dengan membawa banyak uang, tentu mereka yang sulit mencari penghidupan di desa akan berfikir untuk pergi ke kota. Orang dari level tukang gorengan sampai pekerja kantoran, memang lebih sukses yang ke Jakarta dibanding dengan yang tinggal di kampung. Beberapa pekerjaan juga membuat orang mau tidak mau pergi ke Jakarta atau kota besar lainnya dan meninggalkan kampungnya.

Ini kemudian membuat kota seperti Jakarta kebanjiran pendatang. Lihat saja jumlah pemudik dari Jakarta yang mencapai tujuh juta jiwa. Jumlah ini adalah sekitar setengah dari penduduk kota Jakarta itu sendiri. Jika urbanisasi terus terjadi, maka jumlahnya akan terus bertambah banyak.

Bagi yang berhasil tentunya akan bisa memperbaiki nasib dan mudik dengan bagi-bagi rejeki dan ikut menggeliatkan ekonomi desanya. Namun bagi yang tidak berhasil, tentu hanya akan menambah masalah di kota saja. Karena itu, satu-satunya jalan yang harus dilakukan adalah pemerataan kesejahteraan, pemerataan perekonomian.

Jika ekonomi merata, maka tak akan banyak orang yang memilih pergi ke kota. Jika ekonomi di desa maju dan perputaran uang tinggi tiap hari, bukan saat musim mudik saja, maka orang juga akan lebih senang tinggal dan membangun desa.

Pembangunan desa dan perbaikan perekonomian kaum udik adalah pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah dan dengan bantuan kita semua. Ini tidak sulit jika ada kebijakan yang jelas dan visioner. Sebab potensi yang ada di daerah cukup tinggi. Mereka hanya perlu difasilitasi dalam akses modal, pelatihan, dan sebagainya untuk mandiri dan mengembangkan perekonomian di daerah masing masih.

Jika pembangunan ekonomi di daerah telah berhasil, maka pemerataan kesejahteraan akan terjadi, dan urbanisasi akan mengecel dengan sendirinya. Selama itu belum terjadi, geliat ekonomi kaum udik hanya akan terlihat saat musim mudik saja.

 

 

7 comments
  1. pemudik ini kalo pulang kampung biasanya pake perhiasan dan dandanan wah..padahal di Jakarta cuma jd kuli atau PRT.. balik ke Jakarta semua digadai hehehe

  2. kalau di kampung saya pemudik ini biasanya menyerbu tempat wisata di pantai dan dangdutan.. pusat oleh2 juga kebanjiran rejeki saat musim arus balik

  3. Pingback: Blog Dian Widiyanarko » Mendali Perak ISBA dan Nominasi Teman Hatta Rajasa

  4. Pingback: Blog Dian Widiyanarko » Juara Tiga Kontes Blog Teman Hatta Rajasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *