Teks dan Konteks

Sabtu pagi kemarin, saat memantau timeline saya menemukan #kultwit menarik yang dibuat Mas Kar (@karaniya) mengenai e-government yang masih memprihatinkan di negeri ini. Pagi itu, @karaniya menyoroti mengenai pembuatan KTP untuk anaknya yang dirasa sulit atau berbelit-belit.

Tapi yang menarik dan mau saya bahas bukan #kultwit @karaniya, tapi twit orang yang nyamber #kultwit tersebut. Akun @mbelgedez yang nyamber #kultwit @karaniya itu dan menyatakan keheranannya:

@iimfahima @karaniya Selama ini ndak punya ktp ?? *heran*

Twit itu langsung ditanggapi @karaniya:

“Lhooo, kan saya bilang itu utk anak saya T @mbelgedez: “@iimfahima @karaniya Selama ini ndak punya ktp ?? *heran*

Menggelikan memang samberan itu. Karena di #kultwit sudah jelas-jelas dikatakan bahwa yang mau buat KTP itu anaknya @karaniya. Kemudian akhirnya @mbelgedez ngaku dirinya nyamber cuma berdasar twit Iim Fahima @iimfahima yang ini:

“Walah! RT @karaniya: Sekarang saya mendapati utk membuat KTP baru, hrs bikin KTP scr manual dulu barulah nanti diganti dg e-KTP. Whattt???!!!!!”

Rupanya @mbelgedez salah paham karena @iimfahima meniadakan nomor twit yang menandakan #kultwit dan mengedit twit tersebut dengan menghilangkan kata “anak saya”, sehingga @mbelgedez salah paham. Sebagai perbandingan ini twit aslinya @karaniya:

“3) Sekarang saya mendapati utk membuat KTP baru anak saya, hrs bikin KTP scr manual dulu barulah nanti diganti dg e-KTP. Whattt???!!!!!”

Kejadian seperti itu sangat sering terjadi di twitter, contoh di atas hanya sebagian kecil saja hal serupa yang sering terjadi. Saya bahkan sering dimarahi orang karena dia salah paham terhadap twit saya. Pengalaman serupa juga kerap menimpa pengguna twitter lain.

Banyak orang yang salah paham seperti itu, karena mereka merespon twit hanya dengan membaca satu twit saja. Akibatnya salah paham lalu marah-marah, atau salah respon. Padahal kalo dia mau baca utuh rangkaian twitnya, belum tentu dia bereaksi seperti itu.

Saya sering mengingatkan hal ini kepada follower saya di twitter, bahwa dalam membaca twit seseorang hendaknya tidak hanya membaca “teks” tapi juga membaca “konteks”. Membaca satu twit saja, tanpa mau memahami rangkaian atau maksud twit tersebut adalah membaca “teks”. Sementara jika kita membaca keseluruhan rangkaiannya, maka kita akan paham “kontek”snya.

Memahami konteks twit sangat penting. Sebab twitter menyediakan karakter yang terbatas (140 karakter). Banyak hal yang tidak bisa disampaikan hanya dengan satu kali ngetwit. Makanya banyak orang yang membuat pesan atau menyampaikan sesuatu dalam beberapa twit. Bahkan kemudian ada istilah #kultwit.

Orang yang membuat twit panjang seperti #kultwit pun biasanya sadar mengenai hal ini. Makanya mereka memberi nomor tiap twitnya. Harapannya agar pembaca atau followernya mengetahui alur atau urut-urutannya. Namun ada juga sih yang tidak memakai hal itu. Meski demikian, jika kita mau menengok timeline akun tersebut, kita akan memahami konteksnya.

Konteks ini penting, karena tanpa mengetahui konteks kita pasti akan salah paham. Misalnya ada orang yang ngetwit: “cewek telanjang itu boleh”, lalu “jika dilakukan di kamar mandi”. Tentu kalo kita hanya satu di antara dua twit tersebut, kita akan salah paham. Kalo baca twit pertama saja kita bahkan bisa mengecam orang itu tidak tahu aturan, cabul, dan sebagainya. Kalau membaca hanya twit kedua, kita juga akan bingung. Tapi kalo kita baca keduanya, baru kita akan mendapatkan konteks dan memahami maksudnya, sehingga tidak akan salah paham.

Tapi yang ada memang kebanyakan orang malas menengok timeline atau meneliti percakapan. Orang lebih suka terburu-buru dan asal nyamber atau komentar saja pada satu twit yang dibaca. Pernah saya lihat seorang berkomentar bertanya mengenai jam pertunjukan dan lokasi di akun yang menginformasikan pertunjukan musik. Padahal di twit sebelumnya sudah dikasih tahu mengenai hal tersebut.

Sekali lagi, melihat twit secara utuh dengan masuk ke timeline seseorang memang perlu. Karena dengan begitu kita juga akan bisa melihat twit aslinya. Sebab twit yang kita baca dari RTan seseorang berpotensi tidak asli lagi, alias mengalami editing. Sebab banyak orang yang suka mengedit twit yang diRTnya.

Editing ini bisa berupa pengurangan atau penambahan. Alasannya bisa karena untuk mempersingkat, sehingga ada ruang untuk memberikan komentar di RTannya, bisa juga karena memang sengaja untuk mengaburkan dengan mengurangi atau menambahkan bagian tertentu sehingga berbeda dengan twit aslinya. Twit @iimfahima yang mengedit twit @karaniya tadi contohnya twit yang diedit dengan cara dikurangi. Ada juga orang yang mengedit RTan twit dengan menambahkan mention, untuk mengadu domba misalnya.

Contoh kasus adalah antara Wimar (@wimar) dan Ndoro Kakung (@ndorokakung). Suatu malam @ndorokakung ngetwit menyindir Arsenal, tim kesayangan @wimar, dalam twitnya tidak ada mention ke @wimar, namun ada orang yang mengRT twit tersebut dan menambahkan mention ke @wimar. @wimar kala itu menjadi salah paham dan mengira @ndorokakung menyindirnya. Sempat ribut sedikit, namun reda setelah banyak yang menjelaskan bahwa ada yang memprovokasi keduanya.

Sampai di sini, menjadi semakin jelas akan pentingnya memahami konteks dalam membaca teks di twitter. Sebelum memutuskan untuk berkomentar, menanggapi, atau nyember, sebuah twit, ada baiknya kita sediakan sedikit waktu untuk mengecek twit aslinya. Jangan malas mengecek. Biar anda tidak termasuk orang yang suka salah paham atau salah nyamber. Karena orang yang seperti itu biasanya akan malu sendiri akhirnya.

 

 

4 comments
  1. sering jg kejadian, org asal komen di twit yg ada link artikelnya hanya dgn baca judulnya aja, tanpa baca dulu isi artikelnya.. misal wktu itu pernah detik.com ngetwit artikel yg judulnya: “Cegah Pilot ‘Nakal’, Kemenhub Gandeng FPI”. ada yg RT+komen marah2 dan menghina, ini ketauan dia gak baca isi artikelnya, padahal FPI yg dimaksud dlm artikel itu Federasi Pilot Indonesia. [yg penting eksis dan ngasih komen, baca artikel kapan2 aja] hehe..

    klo utk bales twit yg panjang sih, mungkin ada baiknya pilih “replay” aja, nanti kan ketahuan “conversation”nya, drpd pake RT+komen yg biasanya tinggal sisa sedikit karakter, apalagi klo sampe motong2 isi twit-nya.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *