Teman Twitter

Foto: kaskus.co.id

Saya tergelitik membaca tulisan desain kaos yang dijual di forum online, yang berbunyi begini: “I Love When My Dad’s (ada juga yang Mom’s/Honey’s) Blackberry is Lowbat”. Tulisan itu memotret realitas betapa para pengguna BB atau gadget lainnya dibenci orang sekitarnya. Sebabnya tiada lain salah satunya karena sibuk dengan media sosial yang diakses dengan alat tersebut.

Media sosial, termasuk twitter, memang terbukti membuat banyak orang lupa sekitar. Mengacuhkan anak, istri, pacar, dan yang lainnya. Bahkan ada yang cerita karena terlalu asik ngetwit sambil jalan-jalan, anaknya hilang di keramaian.

Ada juga yang sibuk ngetwit pas jalan, sehingga pacarnya ngambek, ngamuk, bahkan putus. Pacar marah karena merasa dicuekin, merasa tidak diperhatikan. Pasangan lebih suka main twitter dan memperhatikan layar gadget. Banyak juga kasus retaknya pertemanan gara-gara hal serupa.

Keluhan seperti ini sudah banyak mengemuka. Kasusnya macam-macam, namun serupa tapi tak sama. Intinya bahwa media sosial membuat orang acuh pada sekitarnya, sehingga hal itu kemudian dimasukkan menjadi salah satu aspek negatif media sosial.

Namun media sosial tidak selalu membuat kita kehilangan teman atau pasangan. Banyak yang justru menemukan teman dan pasangan melalui media ini. Kenal di facebook atau twitter, lalu kopi darat (kopdar) dan kemudian temenan atau bahkan menikah.

Pasangan artis Iko Uwais (@iko_uwais) dan Audi Item (@aawdee_uwais) contohnya. Dalam sebuah acara talk show di tvOne, mereka mengaku kenal di twitter dan kemudian menikah. Prosesnya dari saling mention, saling follow, lalu DMan, telponan, kopi darat, pacaran, dan akhirnya menikah. Banyak orang lain yang memiliki kisah seperti pasangan ini.

Dalam hal pertemanan juga sama. Saya sendiri membuktikannya. Saya punya banyak teman yang kenal dari twitter. Awalnya tahu dari twitter, suka berkomentar atau diskusi di sana, punya kesamaan dalam hal tertentu lalu ketemuan atau kopdar. Saya menyebut mereka ini teman twitter. Karena berteman dari twitter dan lebih banyak berjumpa di twitter.

Salah satu contoh teman twitter saya adalah Iwan alias @cah_ndableg. Kenal dia sejak diskusi soal gambar menggambar. Kita diskusi via twitter, kebetulan saya juga suka menggambar. Sampai akhirnya kita kopdar.

Selain itu, twitter juga membantu saya menemukan kawan-kawan lama saya. Meski dalam soal ini twitter tak sedahsyat facebook, banyak sahabat saya saat sekolah atau kuliah dulu yang terpisah karena kelulusan bertemu kembali di twitter. Hardi alias @hardijan contohnya. Ini kawan saya saat di Unit Seni Rupa UGM dulu. Atau Dian @DianRuZZ kawan SD sekaligus tetangga saya di kampong juga ketemu di twitter.Mereka ini termasuk teman twitter. Karena lebih sering berinteraksi di twitter daripada di dunia nyata.

Teman twitter selain seperti mereka yang pernah kopdar, ada juga teman twitter yang tidak pernah kopdar. Jadi murni ketemu di twitter dan berkomunikasi atau berteman di sana. Tidak pernah bertemu batang hidungnya.

Proses bertemu dengan teman twitter rata-rata sama. Tak sengaja bertemu dalam diskusi tertentu di tawitter, lalu saling follow dan berteman karena memiliki kesamaan pandangan atas hal tertentu. Yang berteman memang yang memiliki kesamaan, jika tidak biasanya menjadi semacam “musuh” twitter. Memfollow untuk selalu menyerang atau twitwar.

Bagi beberapa orang, twitter bahkan bisa sangat membantu mendapatkan teman atau pasangan. Misalnya, ada orang yang di duninya nyata sangat pendiam dan pemalu. Ini membuatnya susah untuk berkenalan dengan orang di lingkungan baru. Namun kalo ditwitter, dia tampak percaya diri, lebih ceriwis, dan tak segan menyapa orang yang belum dikenal.

Nah, kemudian dia punya banyak teman dari sana. Kemudia berani kopdar karena sudah akrab di twitter. Mungkin dari sana ada yang nyantol, sehingga sampai pacaran bahkan menikah. Orang seperti ini ada. Saya bahkan kenal salah satu dari orang seperti ini.

Jadi, intinya dari apa yang saya ceritakan di sini, rupanya twitter sebagaimana media sosial lainnya tak hanya membuat kita kehilangan teman. Karena terbukti kita bisa punya teman twitter. Namun di sisi lain memang ada orang di sekitar yang jadi korban, ini juga tidak bisa dinafikan.

Maka tepatlah kiranya ungkapan populer yang mengatakan: “Media sosial itu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat”. Karena itu, alangkah bijaknya jika kita bisa membuat media sosial termasuk twitter tidak membuat kita lupa pada orang-orang sekitar kita. Sehingga ungkapannya akan menjadi: “Mendekatkan yang jauh dan semakin mendekatkan yang dekat”.

 

 

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *