Cinde Sutra Yogya Gantinya Kain Patola India

Banyak teori masuknya Islam ke Nusantara hingga jadi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Salah satunya adalah teori Gujarat.

Teori yang dicetuskan orientalis Belanda Snouck Hurgronje ini menyebutkan bahwa Islam dibawa para pedagang muslim dari Gujarat, India. Para pedagang ini masuk ke nusantara di abad ke XIII.

Kali ini saya tidak hendak membahas soal teori Gujarat. Tapi saya ingin membahas apa dagangan yang dibawa para pedagang Gujarat. 

Salah satu barang dagangan yang dibawa para pedagang Gujarat adalah kain Patola. Kain tenun ikat ganda yang bahannya sutra.

Motifnya yang indah dan warna warni, menjadikan kain ini termasuk kain yang digemari dan bernilai tinggi, dari dahulu hingga kini. Tingginya tingkat kesulitan pembuatannya, menjadikan kain ini juga jadi tinggi pula harganya.

Setelah masuk ke Nusantara kain Patola juga berubah nama. Misalnya di Timur Indonesia dia bernama Sinde, di Bali dia dinamai Gringsing, di Sumatra dia disebut Cindai, dan di Jawa dia dikenal dengan nama Cinde.

Cinde kemudian juga dimuliakan sebagai pakaian kebesaran. Seperti raja-raja di Jawa yang memakainya sebagai celana busana utama. Atau yang meyakini pakaian dari Cinde bisa memberikan kekuatan saat perang, seperti yang diyakini di kawasan Nusa Tenggara, dan lain sebagainya.

Mahalnya harga Cinde tenun sutra kemudian juga menginpirasi munculnya kain Cinde “paket hemat”, yaitu kain yang dibatik atau ditulis dengan motif Cinde. Di Jawa ini dikenal dengan istilah Cinden. Ada juga Cinde tenun tapi berbahan katun yang harganya lebih dari setengahnya sutra.

Selain untuk busana orangnya, Cinde juga digunakan untuk busana pusakanya. Di Yogyakarta misalnya, singep atau selimut pembungkus keris yang terbaik adalah dari Cinde sutra. 

Mungkin karena mahalnya, banyak singep Cinde yang hanya menutup bagian atas kerisnya. Atau istilahnya ngotang, dari kata kutang.

Selain fungsi teknis untuk melindungi keris dari debu. Singep dari Cinde juga dipercaya bisa menjaga tuah atau kekuatan pusaka. Karenanya singep Cinde sutra banyak diburu, meski kondisinya kadang sudah amoh atau buluk.

Salah satu yang masih membuat Singep Cinde sutra adalah pengrajin batik dan Cinde asal Yogya Good Karma Ku yang karya tekstil tradisionalnya top banget. 

Tim yang juga biasa melayani kerabat Pakualaman dan Mangkunegaran ini telah membuat batik sejak 2007 dan membuat Cinde sejak 2012 tapi baru berhasil tahun 2020. Memang sulit prosesnya dan rumit motifnya. Ditambah lagi benangnya didatangkan dari Italia, maka tak heran harga perlembarnya bisa sampai belasan juta.

Saya baru saja membeli Singep Cinde sutra dari sana dengan motif Sekar Padma alias Bunga Teratai. Motif yang indah dengan makna filosofi teratai yang sangat dalam. Warna motifnya juga bisa jadi samar dan jelas mengikuti cahaya karena efek benang sutranya. 

Sebuah Singep Cinde kamardikan yang sangat cocok menjadi selimut keris kamardikan saya. Mari kita larisi Singep Cinde Yogya atau lokal lainnya yang gak kalah sama kain Patola dari India.

Agar pengrajinnya sejahtera dan tradisi tetap lestari. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.